Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2025

Laut yang Terluka di Selat Malaka: Jeritan Nelayan Sumatera Utara di Tengah Gempuran Kapal Ilegal dan Janji Ekonomi Biru

Gambar
  Kisah krisis maritim Indonesia sering kali diceritakan melalui angka-angka kerugian negara dan kapal-kapal asing yang ditenggelamkan. Namun, dampak yang paling dalam terukir di wajah dan jaring para nelayan tradisional yang hidupnya bergantung pada laut. Di pesisir Sumatera Utara, sebuah narasi keputusasaan tengah berlangsung, di mana laut yang pernah menjadi sumber kehidupan kini menjelma menjadi arena pertarungan yang tidak seimbang. Di Langkat, Chairul Anwar, seorang nelayan rajungan, menjadi saksi hidup dari kehancuran ini. Satu dekade lalu, semalam melaut bisa memberinya lebih dari 20 kg rajungan, setara dengan pendapatan sekitar Rp1 juta. Kini, ia beruntung jika bisa membawa pulang 3-4 kg, yang hanya menghasilkan antara Rp50.000 hingga Rp100.000. Sering kali, ia kembali dengan tangan hampa. Pada suatu malam baru-baru ini, hasil tangkapannya bahkan tidak sampai 7 kg, yang jika dijual tidak akan mencapai Rp400.000  jumlah yang jauh dari cukup untuk menafkahi keluarganya...

Potret Kondisi Ekologis Desa Tanjung Pasir, Kec. Tanah Merah, Kab. Indragiri Hilir, Riau.

Gambar
Nama   :      Ali Nur Rahmad Nim     :           2302113393 Warga yang sedang berkumpul di pelabuhan kecil yang ada di desa Desa Tanjung Pasir di Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Indragiri Hilir, adalah mikrokosmos dari kehidupan pesisir Riau. Di sini, laut bukan hanya pemandangan, melainkan ladang kehidupan, arena pertaruhan nasib, dan sumber ancaman yang kian nyata. Dihuni mayoritas oleh masyarakat Suku Duanu yang secara historis merupakan suku nomaden laut, desa ini menyajikan potret ekonomi dan lingkungan yang kompleks, di mana tradisi berhadapan langsung dengan modernisasi dan perubahan iklim. Perekonomian Desa Tanjung Pasir adalah ekonomi subsisten yang sangat bergantung pada sumber daya alam. Ketergantungan ini menciptakan struktur ekonomi yang khas namun rapuh. Aktivitas ekonomi utama adalah perikanan tangkap skala kecil. Ratusan kepala keluarga menggantungkan hidupnya sebagai nelaya. Nelayan setempat masih mengandalka...

Ekonomi Biru di Pantai Lamaru: Menjaga Laut, Mendorong Kesejahteraan Pesisir

Gambar
  Pantai Lamaru di Balikpapan memiliki pesona alam laut yang menarik banyak pengunjung setiap tahunnya. Namun di balik keindahannya, kawasan ini menghadapi masalah serius: sampah laut yang terus menumpuk, mikroplastik dalam sedimen, dan tekanan terhadap ekosistem pesisir. Bagaimana penerapan ekonomi biru dapat menjadi jalan tengah antara memanfaatkan potensi laut dan menjaga keberlanjutannya? Pemahaman Ekonomi Biru dalam Konteks Pesisir Apa itu Ekonomi Biru? Ekonomi biru adalah konsep pembangunan yang menekankan pada pemanfaatan laut dan pesisir secara berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, menjaga keseimbangan ekosistem, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berbeda dengan ekonomi hijau yang lebih luas mencakup daratan dan sumber daya alam secara umum, ekonomi biru berfokus pada pemanfaatan potensi laut. Pilar utama ekonomi biru antara lain konservasi laut, pengembangan budidaya laut yang ramah lingkungan, pengelolaan sampah laut, hingga pengaturan ru...

Ekonomi Biru Terjemahan_Buku Hazra_Kelas C Ekonomi Kelautan

 Ekonomi Biru Terjemahan_Buku Hazra_Kelas C Ekonomi Kelautan Ekonomi Pembangunan Ilmu Ekonomi Universitas Riau 2025

Menghidupkan Kembali Kota Ikan: Solusi Kebangkitan Ekonomi Kelautan di Bagansiapiapi Melalui Perikanan Berbasis Budidaya

Gambar
Nama  : Naila Septa Ridhoni NIM     : 2302112 204 Sumber: kompasiana.com Awal Mula Sang “Kota Ikan” Sejarah mencatat bahwa Kota Bagansiapiapi terletak di muara Sungai Rokan, di pesisir utara Kabupaten Rokan Hilir. Letaknya yang berdekatan dengan Selat Malaka menjadikan Bagansiapiapi memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan internasional. Selain berfungsi sebagai ibu kota Kabupaten Rokan Hilir, kota ini juga merupakan pusat pemerintahan Kecamatan Bangko (Karmila, 2025) . Bagansiapiapi pernah berjaya sebagai pusat perikanan dunia. Pada 1928, surat kabar De Indische Mercuur mencatat kota ini sebagai penghasil ikan terbesar kedua setelah Bergen di Norwegia. Kejayaan perikanan menjadikan Bagansiapiapi tumbuh sebagai kota modern, bahkan pada tahun 1934 sudah memiliki fasilitas air minum, listrik, dan pemadam kebakaran. Karena kemajuannya yang pesat dibanding daerah lain di Bengkalis, kota ini dijuluki Ville Lumiere atau Kota Cahaya (Abidin, 2021) . Kejaya...